Fanatisme dan Kemanusiaan

Pada tanggal 23 september 2018, terjadi sebuah insiden pembunuhan di kota bandung tepatnya di stadiun Gelora Bandung Lautan Api (GLBA) yang mengindikasikan adanya pengeroyokan massa atas seorang fans club sepakbola persija. Seorang yang bernama Haringgi sirila yakni supoter dari fans club jakmania Persija Jakarta, umur 23 tahun, menjadi korban atas kejadian itu. Selengkapnya bisa di lihat di Banjarmasinpost.co.id.

Sungguh hal tersebut merupakan suatu insiden yang sangat bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Karena atas kecintaan yang terlalu berlebihan terhadap suatu Club sepakbola justru berakibat hilangnya nyawa seorang manusia. Sebenarnya kejadian ini berakar dari fanatisme sekelompok orang terhadap club sepak bola. Fanatisme, bagaimanapun bentuknya dan apapun jenisnya, pasti akan membawa keburukan. Misalnya saja fanatisme terhadap agama, kelompok ini juga mempunyai metode yang sama seperti halnya yang terjadi pada sepak bola. Dalam fanatisme agama, orang-orang menggunakan segala macam cara untuk menegakkan agamanya. Contoh yang dapat kita lihat adalah terorisme. Kelompok ini menggunakan dalil agama untuk menghilangkan nyawa manusia.
Sesungguhnya fanatisme itu akar katanya berasal dari kata fanatik yang mendapat imbuhan akhir isme yang berarti paham. Fanatik ialah suatu sikap yang penuh semangat yang berlebihan terhadap satu segi pandangan atau suatu sebab. Jadi fanatik jelas berbeda dengan fanatisme, jika fanatisme merupakan paham sekelompok orang yang fanatik, sedangkan fanatik sendiri yakni sikap orang tersebut yang terlalu berlebihan terhadap suatu pandangan atau keyakinan. Secara sederhananya fanatik dapat kita katakan akibat sedangkan fanatisme adalah sebabnya (Jp. Chaplin).
Fanatisme bagaimanapun bentuknya dan dimanapun ia melekat, apakah pada sepakbola, agama, daerah dan lain-lain, permasalahan sebenarnya ialah bermuara pada penerimaan terhadap pengetahuan yang tidak di topang dengan akal. Pengetahuanlah yang membentuk pandangan atau sikap kita terhadap apapun. Misalnya fanatisme pada fans club sepakbola. Apakah mereka mengetahui bagaimana sebenarnya posisi mereka ketika menjadi fans sepakbola? Atau apakah sebenarnya fans sepak bola itu? Apa fungsinya dan apa yang harus mereka lakukan sebagai fans sebuah club?. Posisi fans terhadap sebuah club sepakbola diawali oleh perasaan suka atau cinta yang biasanya terkonstruk oleh permainan indah club tersebut, bisa juga karena ada pemain yang mempunyai kelebihan yang disukainya, bisa juga karena club tersebut berasal dari suku, daerah atau negara yang sama dan motif lainnya yang membuat orang suka kepada club tersebut.
Manusia mencintai suatu club adalah wajar, karena manusia mempunyai nilai estetika (menyukai sesuatu yang indah), entah itu di lekatkan pada orangnya sebagai pemain sepakbola, pada clubnya karena ia berasal dari daerah yang sama, atau hal-hal lain yang menjadi motif untuk kita mencintai club tersebut. Namun yang sangat penting untuk diperhatikan adalah manusia sebagai makhluk yang dinamis tentulah mempunyai perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan karena perbedaan kondisi pengetahuan yang mengkonstruk pemikirannya. Setiap pengetahuan orang itu berbeda karena konstruk pemikirannya yang berbeda, satu di besarkan dipantai, dan satu lagi di gunung, atau satu disekolah ini dan satu lagi disekolah itu dan atau hal-hal lainya yang membentuk pemikiran tersebut. Hingga menghargai perbedaan itu adalah suatu yang harus dilakukan. Jika tidak, maka pertumpahan darah akan selalu terjadi dimana-mana. Bahkan sama saudara kandung sendiripun kita akan saling bunuh membunuh. Karena kita juga berbeda pemikiran dengannya.
Kemudian, tugas yang harus dilakukan oleh seorang atau sekelompok fans adalah memberikan support kepada club atau pemain yang ia sukai, karena kemenangan dari club tersebut merupakan kebahagiaan buat kita. Maka dari itu, lakukan yang mestinya fans lakukan. Bisa berwujud dukungan moril, ataupun dukungan berupa finansial jika dianggap perlu. Sebaliknya, jika kita memberikan citra buruk terhadap club, justru akan membuat club yang kita cintai mengalami degradasi citra dan bisa jadi akan berdampak pada permainan pemain di lapangan.
Solusi atas permasalahan ini sebenarnya sangat mudah, aktifkan akal dalam menerima pengetahuan yang didapatkan. Fungsi akal adalah sebagai penyaring dari pengetahuan tersebut. Dampak dari ini adalah pengetahuan yang terkonstruk pada fans adalah pengetahuan yang bersifat positif, karena pengetahuannya bersifat positif maka konsekuensinya tindakannya juga akan positif. Ketika pengetahuan fans sudah positif maka sekalipun kita berada dalam kumpulan massa yang menurut ilmu psikologi bahwa kita akan kehilangan kesadaran kita dan turut melakukan yang dilakukan oleh massa, tetapi jika massa adalah terdiri dari orang-orang yang berfikiran positif, maka massa akan diarahkan pada tindakan yang positif juga. Jika kondisi telah ideal seperti ini maka nilai kemanusiaanpun akan tetap tegak dimanapun fans itu berada. Hal ini disebabkan salah satu dari nilai kemanusiaan ialah berfikir secara rasional nan positif untuk kebenaran, kebaikan dan keindahan.

Iklan

Mahasiswa Baru, Berkah atau Bencana?

Semester ganjil saat ini dimulai akhir bulan september 2018. Berbagai mahasiswa baru berdatangan dari berbagai daerah, membawa semangat dan cita-cita mereka. Terkhusus di kampus UIM, jumlah keseluruhan mahasiswa barunya (maba) yakni 1.040 orang. Kata seorang teman “tahun ini maba di kampus UIM banyak banget yah?” (Sejenak saya berpikir mungkin pembangunan di UIM sudah semakin baik”) tetapi saya tidak menjawab pertanyaannya hingga membiarkan pertanyaan itu berlalu begitu saja.

Karena pertanyaan teman saya tadi, kemudian membuat saya berpikir, apa sebenarnya yang membuat teman-teman baru ini mau melanjutkan studynya, atau apa sebenarnya yang mendorong maba ini mau melanjutkan studynya di perguruan tinggi? Pemikiran saya ini membawa saya pada beberapa alternatif jawaban yang sekiranya biasa menjadi motif mahasiswa untuk melanjutkan study. Adapun motif yang saya maksud yakni:
1. Motif karena bawaan dari keinginan orang tua.
Motif ini biasanya hampir dominan yang dapat kita temui pada mahasiswa baru. Jawaban mereka sederhana ketika di tanya mengapa melanjutkan study di perguruan tinggi, yakni karena kemauan orang tua. Fenomena seperti ini sebenarnya berasal dari dominasi orang tua terhadap anaknya. Karena rasa kasih sayang yang sangat besar hingga menjadikan anak seperti apa yang mereka inginkan. Goalnya sebenarnya hanya satu supaya anakku bisa bahagia di masa depan dengan mengambil jurusan ini atau jurusan itu.
Motif ini adakalanya bersifat positif dan adakalanya ia bersifat negatif. Saya mulai dari yang sifatnya positif dulu. Saya katakan bersifat positif bahwa jika orang tua dapat menangkap potensi ataupun kelebihan yang dimiliki si anak tadi. Ketika motif ini di lakukan atas analisis objektif terhadap anak, maka motif ini dapat menjadi hal positif terhadap anak tadi terlebih jika sianak juga berpikiran yang sama dengan orang tua tadi. Namun hal ini akan menjadi petaka atau negatif ketika motif ini berangkat dari hal yang bersifat subjektif yakni motif ini hanyalah keinginan besar orang tua tanpa mempertimbangkan potensi yang dimiliki si anak tersebut. Dampaknyanya adalah ketidak maksimalisasian peran yang dilakukan si anak dalam menuntut ilmu yang di peroleh dari kampus tersebut. Hal lain yang lebih parah adalah matinya potensi luar biasa anak karena tidak memfokuskan diri akan hal yang di minatinya. Justru fokus terhadap sesuatu yang tidak ia nikmati. Namun, terkadang hal tersebut bisa saja berhasil ketika anak memang mempunyai kelebihan di banding anak yang lain, dalam arti ia dapat memaksimalkan peran yang walaupun bukan minatnya. Namun ini jarang sekali terjadi, dan setiap hal yang bersifat partikular atau fenomena yang tidak bersifat universal, maka tidak bisa di jadikan landasan dalam pembilan keputusan.
2. Motif karena ingin kuliah saja.
Terkadang kita juga menjumpai jawaban aneh yang keluar dari argumen mahasiswa baru yakni aku berkuliah karena mau saja kuliah menuntut ilmu. Sebagai penguat argumennya dia mengatakan rencana Tuhan lebih baik ketimbang rencana yang kita buat. Tuhan pasti akan memberikan rezkinya pada siapapun melalui jalan yang tidak dapat di duga oleh manusia. Atau dalam bahasa sederhananya kita ikuti alur saja. Toh juga nanti bakalan sampai sendiri ke suatu tempat yang kita inginkan.
Motif ini sebenarnya bisa kita sebutkan dengan berjudi dengan kehidupan. Saya katakan berjudi karena semua yang terjadi berdasarkan kebetulan saja. Tanpa ada usaha yang membuat kita bisa sampai kepada tujuan yang kita inginkan. Bukan karena kita membuat rencana yang nantinya takut mendahului rencana Tuhan, namun Tuhan sendirilah yang kemudian menyuruh kita untuk berusaha terlebih dahulu baru kemudian Tuhan menetapkan apa yang kita buat sesuai dengan syarat yang telah kita penuhi dalam usaha kita. Untuk itulah kita di berikan akal oleh Tuhan agar kita dapat memilih hal yang sekiranya baik untuk diri kita. Contoh sederhana sebenarnya kita ingin menjadi seorang profesor dalam bidang keilmuan ekonomi agar nantinya dapat membantu perekonomian Indonesia yang terus terlilit dengam hutang. Nah, hal ini tidak mungkin di lakukan dengan dasar Tuhan telah berencana yang terbaik untuk kita sedangkan kitanya justru melakukan usaha yang tidak sesuai dengan jalan menuju ke profesor itu tadi.
Motif ini sebenarnya dapat membuat mahasiswa lalai dalam waktunya. Ia tidak bersungguh-sungguh untuk memaksimalisasikan potensi yang dimilikinya untuk mencapai tujuannya. Bagaimana mungkin untuk mencapai tujuannya sedangkan tujuan saja ia tidak punya. Hingga mahasiswa tipe seperti ini nantinya akan bermalas-malasan atau bahkan hanya menjadi benalu di lingkungan kampusnya, keluarganya bahkan di masyarakat.
3. Motif mencari ilmu sesuai dengan potensi yang dimiliki
Motif ini sebenarnya motif yang ideal dalam melanjutkan study. Jelas bahwa perkuliahan adalah ruang akademik yang sangat kaya raya akan ilmu pengetahuan. Sangking luasnya ilmu itu rasanya sulit jika kita ingin menguasai keseluruhannya. Apa lagi jika kita hanya mempunyai waktu yang terbatas pula. Untuk itu, kita harusnya memilih satu spesialisasi kelimuan yang ingin kita dalami sesuai dengan potensi yang kita miliki. Pembacaan terhadap potensi sebenarnya sangat mudah, kita hanya tinggal merefleksikan hal-hal apa saja yang membuat kuta tertarik terhadap fenomena-fenomena yang telah terjadi dalam hidup kita. Kemudian kita mengakumulasikannya hingga nanti akan mengkerucut pada satu di siplin keilmuan. Maka disitu sebenarnya potensi yang kita miliki.
Dampak pemilihan potensi yang benar adalah kita merasakan kebahagiaan dan ketertarikan yang dalam pada suatu disiplin keilmuan kita. Hal ini karena kita berangkat dari kesadaran dalam memilih tindakan. Selain itu juga ketepatan dalam memilih tujuan juga menjadi hal yang sangat ingin kita capai. Saya menganalogikan seperti ini, monyet mempunyai potensi untuk memanjat pohon dengan cepat. Apa lagi jika ia melihat sebuah apel yang bergantung di atas pohon. Maka, dengan cepat ia mengambil buah apel tersebut. Namun, jika ia melihat sebuah apel yang hanyut di tengah sungai, maka sekalipun ia sangat lapar dan buah apel itu terlihat lezat sekali, namun ia tidak juga akan mengambilnya. Hal ini yang bisa kita ambil pelajaran, buah apel itu adalah tujuan sedang monyet dengan kemampuan memanjat itu ialah potensi yang dimiliki. Jika kedua-duanya berjalan seiringan, maka akan mudah kita akan capai. Namun jika terdapat perbesaan antar keduanya, maka akan sulit untuk bisa kita capai.
Hal inilah yang ada dalam benak pemikiran saya, di sisi lain dengan banyaknya mahasiswa baru melanjutkan studi merupakan anugerah untuk bangsa kita karena potensi perbaikan SDM akan bergerak maju, namun disisi lain terdapat fenomena yang dapat menyesatkan mereka dalam perjalanan studinya. Mogalah mereka semua bisa cepat sadar akan hal yang mereka lakukan hingga gerak SDM Indonesia dapat bergerak kearah yang lebih baik.

Peran Mahasiswa Tarakan dalam perspektif Khajeh Nashiruddin Thusi

Sebelum kita masuk ke Inti persoalan, sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Semoga aktivitas ibadah yang kita lakukan di terima disisi Allah. Amin. Memang benar terdapat kebahagiaan tersendiri ketika memasuki bulan Ramadhan selain karena itu adalah bulan suci bagi umat Islam, namun juga bagi mahasiswa rantau, bulan tersebut menandakan bahwa tidak lama lagi kita akan balik ke kampung halaman. Bagi mahasiswa yang berasal dari Kota Tarakan, provinsi kalimantan Utara, bulan ini biasanya di fungsikan untuk kembali ke daerah asalnya. Tentu pulangnya Mahasiswa ke daerah asal berbeda dengan pulangnya seorang buruh ke daerah asalnya. Mengapa? Hal ini disebabkan mahasiswa masuk dalam realitas sosail sebagai insan akademik, dan terdidik. Tentu dengan landasan ini, mahasiswa bertindak dengan asas rasionalitas.

Asas rasionalitas mengatakan bahwa segala perbuatan haruslah meletakkan sebuah tujuan jika perbuatan atau tindakan tanpa adanya sebuah tujuan maka tentu hal itu adalah suatu kesia-siaan. Orang yang mefungsikan akalnya pasti menolak adanya suatu kesia-siaan. Akal mengetahui tentang apa yang baik dan apa yang buruk serta yang mana benar dan yang mana salah. Pastinya kesia-siaan merupakan salah dan sesuatu yang di tolak oleh akal hingga orang yang tidak mempergunakan waktunya dengan sebaik-baiknya memastikan orang yang belum memfungsikan akalnya secara benar. Nah kita kembali kepersoalan diatas bagaimana sebanarnya pulang kampung itu dalam perspektif mahasiswa? Tentunya pulang kampung yang di maksud ialah mahasiswa tidak hanya pulang dengan tujuan yang kosong setidaknya tujuan yang di letakkan ialah mengaplikasikan skill profesional akademik yang di ambil. Misalnya dalam bidang sosial politik, tujuan yang di letakkan setidaknya ialah memahami realitas masyarakat politik di daerah kota Tarakan. Dalam artian kita mengkaji keadaan masyarakat kota Tarakan hingga nantinya mungkin saja dapat menjadi refrensi bagi pemerintah dalam memanajemen masyarakat. Begitu halnya dengan berbagai macam profesi yang lain. Menurut Thusi profesi yang kita pilih sangat penting untuk di fungsikan untuk menjaga keseimbangan sistem masyarakat. Profesi “ada” tujuannya tidak lain adalah untuk saling tolong menolong dan saling bantu membantu antar sesama masyarakat. Untuk itu masyakat penting untuk memilih berbagai macam profesi karena kebutuhan masyarakat yang beragam. Tujuan dari ini ialah pasti menjaga keseimbangan masyarakat. Menurut┬áThusi profesi di klasifikasikan dalam empat kelompok yang pertama ialah ahli pena, ahli senjata,ahli transaksi, dan ahli pertanian. Mahasiswa merupakan potensi dari profesi ahli pena, hal itu karena mahasiswa memiliki pengetahuan yang cukup untuk melanjutkan sistem yang ada bahkan untuk memperbaiki sistem masyarakat yang ada. Fungsi dari ahli pena ialah

1. Memelihara kejujuran dan kebenaran di tengah masyarakat luas.

Jelasbahwa mahasiswa sebagai insan alamiah dan kritis pasti di tuntut untuk mengetahui segala kebenaran dan tidak sampai disitu saja, aspek moral juga sangat penting untuk di perhatikan karena jangan sampai ia mengetahui kebenaran namun karena adanya sogokan dari pihak yang berkepentingan kemudian ia menjual pengetahuannya untuk merusak masyarakat. Nah melihat dari kriteria ini mahasiswa harusnya bertindak untuk kepentingan masyarakat, ikut berpartisipasi dalam sistem sosial supaya terjadi keseimbangan.

2. Menampakkan segala yang terpendam.

Kita dapat memahami bahwa menampakkan sesuatu bukan hanya terkait hal yang bersifat fisik misalnya menampakkan potensi daerah, namun juga bersifat nonfisik. Mahasiswa bisa saja melalui pengkajiannya dapat memunculkan ide untuk membantu kehidupan masyarakat. Misalnya dalam fenomena perampok tambak. Hal ini sangat menganggu stabilitas perekonomian masyarakat selama beberapa tahun terakhir. Fungsi mahasiswa disni ialah mengungkap akar permasalahannya kemudian memberikan ide yang dapat menjadi solusi bagi problematika tersebut.

3. Pemikiran dan ide di pelajari sehingga tidak terlupakan.

Hal ini terkait dengan pengetahuan-pengetahuan yang ada harus lah di ungkap dan di ajarkan kembali. Sehingga fungsi ini sebanarnya menjaga regenarasi ideal. Sehingga tidak jatuh pada jurang kebodohan dan kehancuran.

Hal ini patut kita refleksikan bersama bahwa peran kita sangatlah di butuhkan oleh lingkungan kita. Berhentilah berdiam diri dan nyaman dengan sesuatu yang tidak bernilai sama sekali. Kesenangan-kesenangan yang banyak menjadi landasan tindakan kita adalah kesenangan-kesenangan yang bersifat temporal. Masanya hanya sebentar saja. Ia tidak memberikan dampak yang substansial di kehidupan kita kedepannya.

Hampa

Benar bahwa kita sadar dalam melakukan segala hal. Semua perilaku ataupun tindakan kita selalu mengarah pada apa yang kemudian ingin kita capai. Misalnya saja, Roy. Roy ini adalah seorang anak nelayan yang sejak ia keluar dari rahim ibunya hingga ia dewasa, kemudian lulus dari sekolah SMA sederajat, hanya mampu melihat pinggiran pantaip, kapal nelayan serta ombak yang berkejaran. Selama itu ia dihiasi oleh lingkungan desanya yang seperti itu.

Namun, Suatu hari si Roy bercita-cita bahwa pada tahun 2020 nanti saya ingin menjadi seorang PNS, mempunyai mobil 2 dan ingin mempunyai istri yang cantik dan soleha serta mempunyai 2 orng anak, laki-laki dan perempuan.

Setiap hari impian itu menjadi landasan dasar awal dalam setiap aktivitasnya. Hingga untuk sampai pada tujuan itu ia kemudian harus memasuki berbagai macam jenjang pendidikan, entah itu pendidikan formal dan informal.

Tidak sedikit kemudian pengorbanan yang telah Roy lakukan, bermula dari penjualan tanahnya, meninggalkan kedua orang tuanya yang telah tua dan harus ikhlas melihat orang tuanya yang tua itu mencarikan nafka untuk dirinya sendiri dan membayarkan uang kuliahnya si Roy.

Namun, seiring waktu berjalan, Roy kemudian sadar bahwa apakah semua cita-cita itu, pantas dengan pengorbanan yang kemudian ia lakukan. Sejenak ia berfikir lebih kritis lagi bahwa apakah dengan cita-cita seperti itu akan berdampak positif pada dirinya, lingkungan di kampungnya dan juga kepada masyarakat yang ada di sekelilingnya.

Dengan berbagai kondisi lingkungan keluarga dan masyarakat yang kurang mampu tadi, yang terus menghiasi kehidupan Roy hingga dewasa. Kondisi ini kemudian dapat mempengaruhi cita-cita Roy tadi yang hanya bersifat materialistis serta hedonis.

Kenapa Roy dapat berfikiran seperti itu? Apa yang kemudian dapat mempengaruhi Roy hingga ia menetapkan ulang mengenai Visinya. Roy beranggapan seperti ini, saya adalah manusia, saya bisa berkembang karena saya memang makhluk yang dinamis, saya bisa mengetahui dan merasakan apa yang ada disekeliling saya, yang dapat saya indrai dan yang dapat saya fikirkan. saya hidup dengan lingkungan saya dari lahir hingga dewasa. Lingkungan, kerabat, serta penderitaan merupakan satu dalam diri saya. Elemen itu menjadi darah daging saya, dia membentuk saya dan dia juga yang menjadikan saya seperti sekarang ini. Hingga berangkat dari situ mestilah kemudian saya mempunyai Tujuan yang bukan hanya saya saja yang merasakan kesuksesan dan kebahagiaan akan tetapi bagaimana semua orang dapat berbahagia dengan apa yang saya punyai. Untuk itu orientasi saya bukan pada aspek individual saya akan tetapi melampaui dari itu, saya adalah satu dengan mereka, yang merasakan penderitaan dan merasakan kesakitan hidup.

Jadi apa yang mesti saya lakukan? Saya akan melakukan segala hal demi tercapainya tujuan saya itu. Tidak ada gerak atau langkah yang melenceng dari itu, dan ketika itu terjadi maka itu adalah kesia-siaan. Kesia-siaan bukan lah milik dari manusia, namun kesia-siaan milik hewan yang tidak mempunyai akal, yang tidak dapat menentukan gerak dan tidak sadar akan geraknya kemana ia akan bertindak. Frustasi, kehampaan hidup dan kelelahan merupakan hal yang di hadapi namun, sebenarnya tidak ada kehampaan dalam hidup manusia, hampa hanya hadir dalam diri hewan. Hampa bukan kondisi yang niscaya tetapi hampa adalah kondisi orang yang melalaikan akalnya.

Tujuan-tujuan yang di tetapkan ialah konsekuensi logis dari orang yang berakal. Tanpa hal itu orang-orang akan kehilangan makna dari setiap tindakan (hampa dari makna) hingga dari itu akan menghasilkan orang-orang yang hanya bergelut dalam keseharian dan terbawa arus keadaan itu. Ia tidak mempunyai pegangan ataupun landasan yang kuat untuk menepis segala hal yang salah dalam keadaan.